Cari Artikel disini

Showing posts with label Info Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Info Keluarga. Show all posts

Kisah Pengorbanan Seorang Adik


Kisah Pengorbanan Seorang Adik

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…" Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…" Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.." Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…" Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, … tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan sodara dan keluarga kita.
[http://archive.kaskus.us/thread/3944310/]
Read more >>

Sebuah Cerita Makna Cinta dan Pernikahan

Sebuah Cerita Makna Cinta dan Pernikahan

Suatu ketika plato terlibat perbincangan dengan dengan gurunya.... Plato menanyakan makna Cinta dan gurunya pun menjawab : "Masuklah kedalam hutan, pilih dan ambilah satu ranting yang menurutmu paling baik, tetapi engkau haruslah berjalan kedepan dan jangan kembali kebelakang. Pada saat kau memutuskan pilihanmu, keluarlah dari hutan dengan ranting tersebut".

Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah Plato tanpa membawa sebatang rantingpun. Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato : "Saya sebenarnya sudah menemukan ranting yang bagus, tetapi saya berpikir barangkali didepan saya ada ranting yang lebih baik. Tetapi setelah saya berjalan kedepan ternyata ranting yang sudah saya tinggalkan tadilah yang terbaik.Maka saya keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa".

Guru itupun berkata; "Itulah cinta". Kita selalu ingin mencari yang terbaik, terindah dan sesuai dengan yang kita harapkan….namun tanpa sadar justru kita tidak mendapatkan apa², sementara sang waktu akan terus berjalan.

Lalu plato pun bertanya apakah makna pernikahan?
Gurupun menjawab; "Sama seperti ranting tadi, namun kali ini engkau haruslah membawa satu pohon yang kau pikir paling baik dan bawalah keluar dari hutan."

Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah plato dengan membawa pohon yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu indah. Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato : "Saya bertemu pohon yang indah daunnya, besar batangnya.... tetapi saya tak dapat memotongnya dan pastilah saya tak mampu membawanya keluar dari dalam hutan....akhirnya saya tinggalkan. Kemudian saya menemui pohon yang tidak terlalu buruk, tidak terlalu tinggi dan saya pikir mampu membawanya karena mungkin saya tidak mungkin menemui pohon seperti ini didepan sana. Akhirnya saya pilih pohon ini karena saya yakin mampu merawatnya dan menjadikannya indah."

Lalu sang guru berkata :"Itulah makna pernikahan". Begitu banyak pilihan didepan kita seperti pohon-pohon dan ranting-rantingnya didalam hutan. Tapi kita mesti menentukan satu pilihan karena kesempatan itu hanya satu kali. Kita harus terus maju seperti waktu yang beredar kedepan yang tidak pernah tersimpan pada hari semalam, kemarin atau bersemayam pada masa lalu kita.

Terkadang sulit bagi kita untuk menentukan, tapi pilihan harus tetap kita buat. Dan jangan pernah menyesal karena itu, meskipun hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan semula. [http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10312762]
Read more >>

10 Tanda Kekasihmu Takut Menikah


1. Hubungan hanya untuk 'kebutuhannya'
Saat memiliki waktu luang, atau saat stres dan butuh hiburan serta ingin dimanja, ia akan menghubungi Anda. Dalam kondisi seperti ini, ia sepenuhnya 'milik' Anda. Tetapi, ketika Anda membutuhkannya, ia seringkali sulit dihubungi dengan berbagai alasan.

2. Rahasia

Dia mungkin mengatakan kepada Anda menonton pertandingan sepak bola. Tapi dia tak bercerita detil bagaimana serunya, atau pergi dengan siapa. Seperti ada hal-hal dalam hidupnya yang ingin ia rahasiakan.

3. Hubungan stagnan

Anda mungkin sudah menjalin hubungan dalam hitungan bulan atau mungkin bertahun-tahun, tetapi hubungan seperti 'jalan di tempat'. Tidak makin dekat, tidak makin intim atau tidak 'naik level'. Justru, terkadang muncul perasaan yang makin menjauh, karena Anda merasa tidak makin mengenalnya.

4. Tak pernah bertemu orangtuanya

Setelah sekian lama menjalin hubungan tetapi belum pernah bertemu dengan keluarga, apalagi orangtuanya. Ini bisa jadi pertanda kalau si dia tak ingin membuat hubungan menjadi lebih serius. Baginya, hubungan yang dijalani hanya antara dia dan Anda.

5. Ia sering jalan dengan banyak perempuan
Saat menghabiskan waktu bersama dengan teman prianya, selalu muncul kenalan perempuan baru. Jika ia tampak menikmati berkenalan dengan perempuan, bisa jadi 'jiwa bertualangnya' sangat besar. Agak sulit memang mengharapkannya terikat dalam sebuah komitmen.

6. Teman selalu jadi prioritas
Jadwal kegiatannya dipenuhi dengan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Saat ia bersama Anda, berarti memang dia memang sedang 'libur' dengan temannya dan mengusir kesepiannya bersama Anda. Prioritas dalam hidupnya bukan Anda.

7. Berkata 'Aku suka menghabiskan waktu denganmu'

Berkali-kali ia mengatakan itu karena sengaja ingin membuat Anda 'melayang'. Tetapi faktanya, ia sulit sekali menyediakan waktu dan jarang sekali bersama Anda.

8. Merasa tidak percaya diri

Ia selalu merasa tak percaya diri kalau bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Meskipun Anda selalu meyakinkannya, tetapi ia tetap tak percaya diri.

9. Tak sekalipun berpikir masa depan
Jika Anda memancing bahasan seputar masa depan, ia selalu berkilah. Atau, malah berujung pada konflik dan memancing emosinya.

10. Mengagumkan di ranjang

Jangan heran kalau dia kurang perhatian di luar kamar. Tetapi, di tempat tidur ia hanya memiliki Anda dan menjadi sangat 'fokus'.

Sumber: phylopop.com

Read more >>

5 Kebiasaan Si Dia yang Tak Mungkin Anda Ubah

img
Dalam dunia percintaan, kita mengenal istilah pengorbanan dan adaptasi untuk mempertahankan rasa cinta dan kasih sayang kepada pasangan. Hal itu benar adanya, namun ada beberapa hal yang bisa ia ubah dari hidupnya demi Anda dan ada juga hal-hal yang tidak mungkin ia ubah, seperti dipaparkan oleh Match dan NaomiShow.

Bagaikan meluruskan batang pohon yang telah tumbuh puluhan tahun, hal tersebut akan sulit dilakukan. Watak dan kebiasaan yang telah terbentuk lewat proses kedewasaan seringkali memang harus diterima oleh pasangan hidup.

5 Hal yang Bisa Ia Ubah dari Dirinya Demi Anda:

Tata Krama
Menurut sebuah survei dari kehidupan sehari-hari, pria akan berusaha untuk beradaptasi dalam hal ini. Jadi, jangan ragu untuk menanamkan nilai kesopanan di dirinya, karena hal sosial ini belum terlambat untuk diajarkan.

Berbusana/Kerapihan
Gaya berbusana seorang pria bisa saja diubah, namun hal ini bisa menjadi hal yang menimbulkan argumen. Jangan pernah memaksakan untuk melakukan makeover total pada dirinya dalam seminggu. Sambil menyarankan suatu hal, ingatkan pula manfaat positif dari perubahan tersebut.

Pandangan Kultur
Jika pria kesayangan Anda hanya peduli urusan mobil dan olahraga, jangan langsung protes. Pria memang diciptakan untuk sulit menerima hal-hal baru. Mereka sebenarnya ingin meluaskan pengetahuan dan kehidupan sosialnya, namun sulit untuk memulainya. Jadi Anda sebagai pasangan bisa membantu hal ini.

Kebiasaan Bersih-bersih
Tidak semua pria memiliki kebiasaan untuk menjadi seseorang yang senang bersih-bersih. Mereka juga mempunyai pemikiran jika terlalu bersih, mereka akan dicap bukan pria sejati oleh lawan jenis. Jangan pernah takut untuk menyampaikan kalau si dia 'jorok' dan perlu berubah.

Keahlian Seks
Bagi pasangan yang sudah menikah, keahlian bercinta dari pasangan yang ternyata mengecewakan bisa disampaikan baik-baik. Utarakan padanya secara halus apa yang Anda inginkan untuk membuat kehidupan di ranjang makin hangat. Meskipun ia hanya menyukai satu posisi, tak ada salahnya jika Anda mendorongnya untuk mencoba hal-hal baru.

Sedangkan 5 hal lainnya yang tidak mungkin Anda ubah dari dirinya, dan sebaiknya Anda terima apa adanya adalah:

Kumpul dengan Teman-teman
Tidak peduli berapa umur mereka, pria senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Anda harus bisa menerima hal ini layaknya Anda ingin dberikan keleluasaan pergi shopping atau arisan bersama teman-teman wanita Anda. Banyak wanita khawatir momen ini merupakan kesempatan untuk berselingkuh. Ya, hal ini memang besar kemungkinan terjadi dalam banyak kasus. Namun Anda jangan berpikir negatif dulu, pertemanan penting bagi semua orang. Dan bagi si dia, hal ini bisa membantu melepaskan stress.

Uang
Uang terkenal sebagai salah satu alasan banyak pasangan mengakhiri hubungan. Jika Anda melihatnya sebagai orang yang tidak bisa menabung, hal ini bisa berubah seiring berjalannya waktu. Namun tiap orang memiliki jalan masing-masing dalam hal belanja, mencari uang, hingga menabungnya. Konflik seperti ini sebaiknya dihindari dan biarkan ia mengurus keuangannya sendiri. Selama masih dalam batas wajar, Anda cukup mengurusi finansial diri.

Hobi
Bagi pria, hobinya adalah bagian dari ekspresi diri. Jika hobinya begitu mengganggu, berarti Anda harus mempertimbangkan untuk berpisah. Yang bisa dinegosiasikan adalah, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk hobinya dibandingkan dengan Anda. Jika akhir minggu adalah waktu baginya melakukan hobi namun Anda tidak diikutsertakan, carilah hobi Anda sendiri atau habiskan waktu bersama teman-teman.

Gaya Berkomunikasi
Dalam kehidupan pria, ada kebiasaan meniru suara (mimik) yang mengganggu. Saat beradu pendapat, bisa jadi ia menirukan gaya Anda bicara dan hal ini membuat Anda makin emosi. Anda bisa saja memintanya untuk tidak mengulang hal tersebut, namun sulit untuk tak terulang lagi. Terimalah hal tersebut dan jika Anda mau, cobalah membalasnya. Jika ia tidak bisa menerimanya, Anda berarti memiliki pasangan dengan ego tinggi. Pilihannya, membiarkannya atau hentikan obrolan saat itu juga.

Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang, entah itu pria maupun wanita akan sulit berubah meskipun telah menikah. Jika ia makin hobi makan dan menggemuk tanpa olahraga sejak saat pacaran, sulit untuk mengharapkannya menjadi seseorang yang menjaga pola makan dan gaya hidup sehat pasca menikah nanti. Jadi, terimalah dia apa adanya. Yang bisa Anda lakukan adalah menyajikannya makanan yang sehat atau membawanya ke resto yang jauh dari makanan menggemukkan favoritnya. Ultimatum dokter ketika ia mencapai kondisi kronis mungkin hanya jalan satu-satunya untuk mengubah kebiasaan hidupnya yang jelek.

Read more >>

[Renungan] Bangunlah Jembatan, Jangan Tembok!

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini retak.

Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan,? kata pria itu dengan ramah. ?Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan.?

Oh ya !? jawab sang kakak.

Saya punya sebuah pekerjaan untukmu.?

Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana . Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku.
Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan Airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang Memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku Sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.

Kata tukang kayu, Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang.?

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai Kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.

Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru Saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya.

Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang Pertanian adiknya.

Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.

Dari seberang sana , terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki Jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu.

Maafkan aku? kata sang adik pada kakaknya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, Saling berjabat tangan dan berpelukan.

Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,pinta sang kakak. Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini,? kata tukang kayu, tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.

    TUHAN SELALU INGIN KITA BERSAMA DALAM DAMAI SEJAHTERA
    TUHAN SELALU INGIN MEMPERSATUKAN HATI KITA
    TUHAN SELALU INGIN KITA MENGASIHI SESAMA KITA, SAUDARA KITA.
    KARENA TUHAN ADALAH SAHABAT SETIA, PENOLONG KITA.
    PERCAYALAH BAHWA TUHAN SELALU INGAT PADA KITA MANUSIA

Sadarkah kita bahwa :
Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat yang ada di depan?

Kita lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu di kanan sehingga kita dapat mendengar dari dua sisi dan dua arah. Menangkap pujian maupun kritikan, Dan mendengar mana yang salah dan mana yang benar.

Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Karena tak seorang pun dapat mencuri isi otak kita. Yang lebih berharga dari segala permata yang ada.

Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup dengan satu mulut.

Karena mulut tadi adalah senjata yang tajam , Yang dapat melukai, memfitnah, bahkan membunuh. Lebih baik sedikit bicara, tapi banyak mendengar dan melihat.

Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita. Untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk hati.

Belajar untuk mencintai dan menikmati untuk dicintai, tetapi Jangan pernah mengharapkan orang lain mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan.

Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup ini terasa menjadi lebih indah.
Read more >>