Showing posts with label Info Perkawinan. Show all posts
Showing posts with label Info Perkawinan. Show all posts
Sebuah Cerita Makna Cinta dan Pernikahan
Sebuah Cerita Makna Cinta dan Pernikahan
Suatu ketika plato terlibat perbincangan dengan dengan gurunya.... Plato menanyakan makna Cinta dan gurunya pun menjawab : "Masuklah kedalam hutan, pilih dan ambilah satu ranting yang menurutmu paling baik, tetapi engkau haruslah berjalan kedepan dan jangan kembali kebelakang. Pada saat kau memutuskan pilihanmu, keluarlah dari hutan dengan ranting tersebut".
Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah Plato tanpa membawa sebatang rantingpun. Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato : "Saya sebenarnya sudah menemukan ranting yang bagus, tetapi saya berpikir barangkali didepan saya ada ranting yang lebih baik. Tetapi setelah saya berjalan kedepan ternyata ranting yang sudah saya tinggalkan tadilah yang terbaik.Maka saya keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa". Guru itupun berkata; "Itulah cinta". Kita selalu ingin mencari yang terbaik, terindah dan sesuai dengan yang kita harapkan….namun tanpa sadar justru kita tidak mendapatkan apa², sementara sang waktu akan terus berjalan. Lalu plato pun bertanya apakah makna pernikahan? Gurupun menjawab; "Sama seperti ranting tadi, namun kali ini engkau haruslah membawa satu pohon yang kau pikir paling baik dan bawalah keluar dari hutan." Maka masuklah plato kedalam hutan dan keluarlah plato dengan membawa pohon yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu indah. Gurunya pun bertanya, maka jawab Plato : "Saya bertemu pohon yang indah daunnya, besar batangnya.... tetapi saya tak dapat memotongnya dan pastilah saya tak mampu membawanya keluar dari dalam hutan....akhirnya saya tinggalkan. Kemudian saya menemui pohon yang tidak terlalu buruk, tidak terlalu tinggi dan saya pikir mampu membawanya karena mungkin saya tidak mungkin menemui pohon seperti ini didepan sana. Akhirnya saya pilih pohon ini karena saya yakin mampu merawatnya dan menjadikannya indah." Lalu sang guru berkata :"Itulah makna pernikahan". Begitu banyak pilihan didepan kita seperti pohon-pohon dan ranting-rantingnya didalam hutan. Tapi kita mesti menentukan satu pilihan karena kesempatan itu hanya satu kali. Kita harus terus maju seperti waktu yang beredar kedepan yang tidak pernah tersimpan pada hari semalam, kemarin atau bersemayam pada masa lalu kita. Terkadang sulit bagi kita untuk menentukan, tapi pilihan harus tetap kita buat. Dan jangan pernah menyesal karena itu, meskipun hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan semula. [http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10312762] |
10 Tanda Kekasihmu Takut Menikah
Kapan Kawin? Jawaban Anda...
Ya, bisa dipahami bahwa pertanyaan yang paling menyebalkan di usia jelang 30 tahun adalah "Kapan kawin?" Tak hanya Anda saja kok, banyak juga wanita yang mengalaminya. Bahkan juga kaum adam.
Seringkali saat menghadapi pertanyaan tersebut kita bisa bersikap santai dan cuek saja, namun ada kalanya pertanyaan itu menimbulkan perasaan sedih yang membuat kita galau seharian. Nah, ini dia trik menjawab pertanyaan 'kapan kawin' yang DIJAMIN bikin Anda terhindar dari galau.
"Segera..."
Jawaban singkat, jelas dan padat ini sekaligus sebuah tanda bahwa Anda tak ingin ditanya panjang lebar soal pernikahan. Bila si penanya masih nekat menegaskan kapan, tarik lengannya dan bisikan di telinganya "segera... jangan bilang siapa-siapa yah..."
"Eum... sebentar saya lihat jadwal dulu"
Jawaban ini tak pelak akan menimbulkan gelak tawa. Membuat orang tak lagi penasaran tentang status Anda yang masih single. Dan mencairkan suasana.
"Yes I do!"
Nah, jawaban ini khusus untuk dilontarkan bila sang penanya adalah pria (masih single dan tampan). Pastikan Anda menambahkan senyum malu-malu dan sedikit tundukkan kepala Anda. Well, sekalian flirting. Namanya juga usaha, ya kan?
"Ya tergantung kamu bisanya kapan..."
Jurus yang satu ini masih berlaku bila yang bertanya adalah pria gebetan Anda. Dan Anda berniat flirting padanya. Oya, sebelumnya kami ingatkan. Kami tidak menjamin bila kemudian ia langsung mengajak Anda berkencan ya. So, pastikan Anda selalu berdandan cantik ke manapun Anda pergi untuk bertemu dengan pangeran Anda ;)
"Yah kan mau dijadiin surprise kok kamu nanya sekarang sih..."
Bila si penanya adalah sosok teman SMA tukang gosip yang menyebalkan dan miss heboh, Anda wajib membuatnya lebih penasaran lagi. Dijamin, akhirnya ia akan gondok sendiri, berusaha selalu baik di depan Anda agar ia juga diundang ke pesta pernikahan Anda nantinya.
"Oh iya, nanti kasih tahu alamat kamu ya"
Kira-kira ada dua reaksi yang akan timbul bila Anda menjawabnya demikian. Yang pertama, "Ah serius kamu?" dan yang kedua dia akan memberikan alamatnya pada Anda.
"Iya, anak tante kemarin juga udah nanya kapan bisa melamar, tapi..."
Jawaban ini pernah diberikan oleh seorang team Woman saat seorang tante yang hobby menjodohkan orang bertanya kepadanya. Kontan saja si tante terkejut, karena anaknya sudah menikah dan memberikannya cucu yang lucu-lucu. Setelah itu, ia tertawa sambil mencubit lengan si tante yang nyaris jantungan. "Ah tante, kan cuma bercanda. Jangan terlalu serius gitu ah..."
Nah, gitu dong tertawa. Katanya saat tertawa jodoh akan semakin didekatkan lho. Menghadapi pertanyaan yang membuat Anda stress hendaknya tidak ditanggapi dengan serius, apalagi sampai membuat Anda bete dan galau seharian. Percaya saja bahwa jodoh di tangan Tuhan. Dan tepat pada waktunya Anda akan bertemu dengan sosok yang tepat. Jadi, pastikan Anda eksis di kegiatan positif bersama teman-teman baru, siapa tahu jodoh Anda ada di sana.
11 Karakter Mertua
Konon, hubungan mertua-menantu perempuan selalu diwarnai konflik. Nah, bagaimana caranya agar kita terhindar dari konflik tersebut? Kenali karakter mertua Anda!
PENUH PERHATIAN
Biasanya, dia penuh perhatian dan kelewat peduli pada cucu. Selama tak mengganggu boleh saja. Tapi jika berlebihan, hati-hati. Pendidikan anak balita mutlak tanggung jawab orangtua. Anak akan bingung bila ada dua "peraturan" bertentangan. "Bila yakin prinsip Anda benar, jangan ragu mengatakannya. Tunjukkan sikap santun dan tidak menggurui. Bila perlu, minta bantuan suami," ujar psikolog Ieda Poernomo Sigit Sidi.
SOK KUASA
Mertua berusaha masuk dalam rumah tangga anaknya dengan berbagai cara, ikut campur dalam segala hal. "Modal" menghindari pengaruh buruknya adalah punya rumah sendiri. "Bisa cicilan atau kontrak karena itu satu-satunya cara agar Anda berdua bisa mengelola keluarga sendiri. Justru itulah tantangannya. Ingat, rumah tangga milik Anda berdua. Anda berdualah yang menentukan akan diapakan dan di bawa ke mana."
TUKANG NGERUMPI
Kita perlu ekstra hati-hati dan wajib menjaga jarak. Bila tidak, kita mesti tahan mendengarnya mengoceh segala hal, terutama kejelekan anak, menantu, atau cucunya, hingga terkesan mengadu domba. Kita pun harus mampu menahan diri untuk tak menimpali.
RAJIN MENGELUH
Bagi mertua, tak ada hari tanpa keluhan: sakit, tak punya duit, suami bikin jengkel, menantu pelit, atau pembantu bebal. Meladeninya melelahkan, tak menanggapi bisa dianggap menantu tak tahu diri. Cobalah menyesuaikan diri. Kenali kepribadian dan kebiasaan mertua. Dari situ kita bisa mengenali pola komunikasi yang cocok bila berhadapan dengannya sehingga tahu kapan dan bagaimana harus menanggapi keluhannya.
MATA DUITAN
Anak dianggapnya sebagai investasi sehingga ia selalu menuntut imbalan dan jasa. Ketika anaknya akan menikah, ia berhitung apakah akan tetap dapat jatah. Ia mengukur baik-tidaknya menantu dari seberapa sering dan besar memberi "upeti". Bila mau dan mampu, silakan memberi uang dan hadiah. Bila keberatan, buat kesepakatan dengan suami seberapa besar kesanggupan Anda.
PILIH KASIH
Jika suami anak kesayangan, bisa dipastikan kita ikut "ketiban" kasih sayang ibunya. Tapi kalau sebaliknya, bersiaplah "dimantutirikan". Tunjukkan Anda tak mau diistimewakan. Bila keadaan tak mungkin diperbaiki, dan kita menantu yang "ditirikan", terimalah keadaan dengan besar hati. "Tak perlu sakit hati. Jika kedatangan Anda cuma 'pengganjal' pintu depan ya tak perlu berakrab-akrab di dalam. Anda boleh tak pergi ke rumah mertua daripada datang hanya untuk menambah sakit hati."
ACUH TAK ACUH
Selagi kita dibelit masalah, jangankan memberi nasihat atau jalan keluar, mertua model begini akan acuh saja. Ia pun jarang telepon dan berkunjung. Kalau kita menelepon atau berkunjung, tanggapannya biasa saja. Menurut Ieda, sebetulnya malah enak punya mertua cuek. Ia merasa tugasnya mengurus anak sudah selesai. "Anda sama sekali tak boleh berujar, 'Si nenek sudah tua tapi masih jalan-jalan, dititipi cucu enggak mau.' Itu hak dia lho," tandas Ieda. Anda harus menghargai privasinya. Biarkan ia menikmati hidupnya."
BERMULUT MANIS
Di depan kita, ia rajin obral pujian dan kata manis. Tapi di belakang kita, segalanya berubah total. Begitulah mertua model ini, munafik. Sebagai anak, kita dan suami wajib mengingatkan. Tentu dengan cara santun karena orangtua tetap manusia yang punya kekurangan. "Tak perlu kecut menghadapinya. Kaji kembali opini yang membuat orang terjerat dalam ketakutan akan durhaka terhadap ibunya." Bila kita tak menegur atau mengingatkannya, kita justru membiarkannya terperosok lebih jauh.
MENEMPEL TERUS SAMA ANAK
Lantaran tak rela berpisah dengan anak istimewanya, kita sebagai menantu pun ikut "disandera" untuk tinggal di rumahnya. "Sampaikan terima kasih Anda bisa tinggal di situ karena memungkinkan Anda menabung agar bisa beli rumah," saran Ieda. Tapi tekad memiliki rumah sendiri harus terus dibicarakan dengan suami. Perlu dicari cara tak mencolok yang dapat mengundang prasangka dan memojokkan Anda.
SOK TAHU
Anda sering ditegur kala melakukan sesuatu untuk suami karena dianggap tak mengerti selera suami, seolah-olah cuma beliaulah yang tahu persis. "Perasaan memiliki secara berlebihan pada diri mertua terhadap anak lelakinya adalah salah satu pemicu konflik mertua-menantu," tuturnya. Sayangnya, orang sering lupa bahwa tugas orangtua cuma mendidik, membesarkan, dan mengantarkan sekaligus melepaskan si anak memasuki rumah tangganya sendiri.
PENUH PENGERTIAN
Saat tahu Anda hamil, ia "heboh" menyiapkan segala keperluan. Jika ia tahu kita butuh sesuatu, tahu-tahu kebutuhan itu dipenuhi. Kata Ieda, kita tak perlu risi sepanjang segala pemberiannya tulus. Sekalipun pemberiannya kurang berkenan di hati lantaran perbedaan selera, "Anda mesti pandai menenggang rasa." Yang penting, jangan terlena dan memanfaatkan kebaikannya. Sebagai tempat penitipan anak, misalnya. "Ingat, anak, keluarga, dan hidup Anda merupakan tanggung jawab Anda, bukan mertua!
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/1903442-11-karakter-mertua/#ixzz1SQynLOnp
Subscribe to:
Posts (Atom)


